Rabu, 23 Februari 2011

PRAKAPITALISME DI ASIA

Dalam bab pertama yang ditulis oleh Dr, J.H Boeke, membahas mengenai Ekonomi Dualistis. Di mana para ahli ekonomi selalu mengarahkan perhatiannya kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah perkembangan kota dan industry, perniagaan dan perdaganan, uang, keuntungan dan perusahaan, pembagian dan otganisasi tenaga kerja, pasar-pasar, persaingan dan harga-harga. Adapun masalah-masalah yang timbul dari ekonomi dualistis dapat dikelompokkan di sekitar dua inti kepadatan penduduk dan hutang pedesaan. Masalah-masalh utama ini akan di jelaskan dari asal mulanya dan akan di telusuri arti penting serta konsekuensinya. Namun, pengunkapan mereka akan diawali dengan deskripsi dua kubu di mana masyarakat-masyarakat dulistis erbagi; kota oriental dan pedesaan oriental. Khususnya pengenalan yang lebih dekat dengan kehidupan desa oriental, tak dapat diabaikan. Sebab setidaknya 80 samapi 90 persen penduduk hidup di desa komunitas desa merupakan unit yang membentuk masyarakat oriental dan rakyat yang tinggaldi desa dengan reaksi mereka terhadap pengaruh kapitalisme barat member corak masalah-masalah khas yang menarik kita pada pengkajian saat ini. Pengenalan lebih dekat pada kehidupan desa adalah lebih penting, karena rakyat desa sendiri tidak memiliki suara. Bagi sebagian besar kita, sulit memperoleh pandangan yang jelas atas unit-unit kecil ini, bahkan sulit untuk mendapat bayangan sesungguhnya dari kesatuan sosial dan ekonomi yang kecil tapi mandiri, beberapa secara fundamental dengan lingkunagan yang akrab dengan kita. Dengan ikatan-ikatan sosial yang asli dan organis, system kesukuan tradisional, kebutuhan yang terbatas dan besahaja. Oleh karena itu apabila kita mencoba melihat masyarakat desa oriental sebagai suatu linkungan di mana kehidupan bagian penduduk terbesar bermula dan berakhir, dan memahami rakyat-rakyat ini didalam hubungannya dengan lingkungan mereka pertama-tama mungki harus dibantu dengan mendapatkan pemahaman tentang cirri-ciri masyarakat prakpitalistis. Di hampir semua Negara oriental, 70 sampai 80 persen penduduk bergumul dalam usaha pertanian ini bukan satu-satunya alasan mengapa masalah agrarian menjadi teramat sangat penting di Negara ini. Alasan lain ialah, bahwa di Negara-negara yang di bahas kecuali Jepang jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh industry terus-menerus turun dan tidak ada ikhtiar apa pun yang sanggup menghalangi ini. Industry –industri baru dan bermesin menggeser industry kerajinan tradisional, mesin-mesin giling kota besar melumatkan industry dan kerajinan pedesaan. Tukang-tukang yang mandiri di masa lampau arus menari pekerjaan baru. Tetapi dimana pekerjaan itu. Kalau bukan di bidang pertnian dan perdagangan kecil, diskusi ekonomi.Dalam periode prakapitalistis,rumah tangga desa secara ekononomis berdaulat. sejauh kota memiliki kehidupan ekonomi produktif sendiri, ia tidak terlampau erat dengan desa-desa yang mengelilinya,cukup bebas terhadap mereka.oleh karena itu,apabila kita mencoba melihat masyarakat desa oriental sebagai suatu lingkungan di mana kehidupan bagian penduduk terbesar bermula dan berakhir,dan memahami rakyat-rakyat ini dalam hubungannya dengan lingkungan mereka;pertama-tama mungkin harus dibantu dengan mendapatkan pemahaman tentang cirri-ciri masyarakat prakapitalistis.bila dalam masyarakap kapitalistis setiap individupada prinsipnya menjaga kebebasan spritualnya sendiri,dalam masyarakat prakapitalistis setiap orang merasa menjadi bagian dari keseluruhan,menerima tradisi dan morale kelompok sebagian pedomannya.karena desa merupakan suatu masyarakat alami dan bukan buatan,tidak dibutuhkan batasan yang jelas untuk konstitusi serta kewenangan badan pemerintahannya.telah dinyatakan sebelumnya,desa yaitu unit kemasyarakatan prakapitalistis,memiliki kemiripan yang menyolok dengan organism alami.dalam hal ukuran yang tidak dapat secara sembarangan diperluas,sesungguhnya sama pula dengan sebuah kecamatan,atau provinsi,atau Negara.tetapi desa terikat pada hokum yang tidak bisa dielakkan.sebuah desa yang menjadi terlampau luas,telalu padat,harus memotong sebagian anggotanya,untuk membentuk anak desa yang menurutkan polanya,keturunan yang lambat atau cepat akan mandiri dan pada gilirannya akan berbiak dengan cara yang sama.sebuah desa dengan penduduk pemilik tanah yang berjumlah tetap,mungkin makmur atau mungkin pula tidak.desa dengan penduduk yang bertambah,tidak mungkin makmur.hukum besi prakapitalisme di Negara-negara berpenduduk padat mengisyaratkan apabila kendali penekatan berupa wabah,perang,kelaparan dan bencana-bencana alam,tidak bekerja dengan baik,dan sebagaiakibat lanjutnya penduduk pedesaan cenderung untuk sangat bertambah,campur tangan manusia,dengan cara pengguguran kandungan serta pembunuhan bayi,tidak dapat dihindarkan.sulit untuk melukis sebuah dunia yang sangat kecil seperti desa.di banyak daerah rata-rata terdiri dari dua puluh sampai lima puluh rumah tangga,bahkan sampai seribu orang atau lebih,dalam bahaya terlampau padat dan kehilangan solidaritas komunalnya.sebuah pemerintah dengan selera kebijakan barat,menganggap unit-unit kecil dan lemah ini kurang dapat dikelola.jadi,untuk maksud-maksud administrative,kebijakan pembentukan unit-unit baru biasanya berupa menggabungkan sejumlah desa.penguasa bermental barat tidak dapat membiarkan desa-desa prakapitalistis ini mengurus diri mereka sendiri.tidak terkecuali di Negara-negara dengan pemerintahan langsung,di mana kebijakan baratserta hokum-hukum yang diilhami barat menyebar ke seluruh struktur social dan di terapkan pada orang-orang desa secara individual.dimiskinkan serta diindividualisasikan,orang-orang desa cenderung untuk mengabaikan kepentingan dan kewajiban social mereka.untuk mencari uang mereka membutuhkan waktu yang lebih lama.demikian pula kepentingan-kepentingan dan kewajiban-kewajiban social jarang berlangsung,karena telah dicampakkan,atau menjadi berlebihan,karena mulai dikenal uang dan pertukaran.pertanian di Negara-negara oriental pada mulanya hanya untuk swasembada,yaitu melayani kebutuhan sendiri dan keluarga,dan terbatas pada lahan yang dianggap cukup menghasilkan makanan untuk keluarga.pada mulanya seorang petani dapat menentukan macam lahan tanah garapan dengan jalan menghitung mulut dalam keluarganya yang harus diberi makan,dan menambah jumlah hasil produksi yang dibutuhkan untuk maksud ini dengan jumlah yang dibutuhkan untuk memberi makan para penganggur desa serta bagian yang diminta oleh tuan tanah dan pemerintah.dalam keadaan ini,tidaklah mengagetkan apabila jumlah dari buruh upahan permanen di pertanian oriental adalah terlampau sedikit.dinegara-negara barat kepadatan penduduk merupakan suatu unsure yang berubah,berkaitan dengan pertumbuhan kota-kota industry perkotaaan yang pada gilirannya bergantung pada produktivitas pertanian.di Negara-negara itu,gejalanya ditandai dengan kekurangan penduduk di pedusunan,di mana tenaga pertanian digantikan oleh mesin.apabila diukur dengan kaidah-kaidah barat kepadatan penduduk yang dicapai dan dialami oleh desa-desa Negara-negara dualistis ini di samping adanya kelompok-kelompok perkotaan parasutis yang tidak tertahankan.jadi mungkin hanya ada satu kesimpulan;kepadatan penduduk adalah masalah komunal yang dapat dikatakan ada segera setelah desa tidak lagi mampu hidup menurut prinsip-prinsip prakapitalisnya yang khusus.karena menganggap kedudukan sosialnya lebih tinggi dari pada seorang upahah,petani tidak akan mengerjakan kerja upahan di dalam desanya sendiri,apabila ia masih mungkin menghindarinya.kedua watak dualistis dari pasar kerja oriental nampak jelas pada pemunculan agen pencari buruh di pasar itu.standar kehidupan yang rendah berubah menjadifaktor stabilisator.tiap organisaasi produksi harus menyesuaikan dirinya dengan factor stabilisator ini.penawaran tenaga kerja demikian melimpah,sehingga tidak ada kebijakan pemerintah yang mampu menaikkan tingkat upah ke taraf yang pantas.barangkali dimnapun sifat dualistis Negara-negara oriental tidak tampil tergaris setajam industry.sebab dalam pembangunan industrilah kapitalisme mencapai kemenangan mutlaknya,baik secara teknis,financial dan organisasional.perbedaan antara industri rumah yang kecil dengan perusahaan dunia raksasa dunia,seperti perbedaan siang dengan malam.membandingkan antara keduanya tidak mungkin,keduanya merupakan antithesis. menghancurkan petani,karena hanya sedikit sekali yang dapat di capai di bidang ekonomi.dan dengan demikian,penghancuran apa yang pernah ssssbernilai dalam hidupnya selalu berhadapan dengan rehabilitasi.adalah keharusan untuk mengakui,bahwa watak dualistis dari Negara-negara oriental yang berpenduduk padat adalah tidak dapat diubah;dan bahwa perekonomian swasembada menghilang dari massa pedesaan.sekali pandangan ini diterima, akan terlihat bahwa massa harus sedikit mungkin dibebani dengan kebutuhan-kebutuhan uang.kebijakan ekononi ini tidak akan demokratis.sebaliknya,ia akan dibebani oleh watak kapitalis yang nyata,tetapi ia akan terbukti nasionalistis sejati, bila kebijakan itu terutama dibimbing oleh kepentingan nasional.

Persoalan Ruang Publik Kota Di Indonesia

Tidak ada satupun kota di Indonesia tumbuh dan berkembang tampa suatu masalah. Ada banyak masalah yang biasa terjadi dikota-kota di Indonesia, misalnya masalah tata ruang kota, masalah gelandangan anak-anak jalanan, masalah ruang publik, dan banyak lagi masalah lainya. Akan tetapi dalam makalah ini dikhususkan untuk membahas mengenai masalah ruang publik kota.
Kota-kota di Indonesia umumnya memiliki persoalan dengan ruang publik, seperti persoalan parkir yang memakan bahu jalan, masalah menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL), kemacetan lau lintas, papan reklame yang berserakan, dan penggunaan ruang publik yang kumuh. Masalah ini sebenarnya berawal sejak orde baru higga sekarang belum teratasi, malahan semakin bertambah .
Coba saja jika memperhatikan penataan ruang publik kota di Indonesia dengan Singapura maka akan memperlihatkan perbedaan yang sangat jelas. Indonesia dengan kota-kotanya yang cenderung lebih luas malah tidak mampu menata ruang publiknya, berbeda sekali dengan kota yang sangat kecil Singapura yang mampu menciptakan penataan kota yang sangat rapi dan indah. Perbedaan itu terjadi karena ada tiga faktor peyebab, yang pertama penghijauan, Jika di Singapura penghijauan betul-betul digalakan hingga suasana kota menjadi sejuk dan indah, maka di Indonesia penghijauan hanya setengah-tengah, yang kedua adalah lingkungan di Singapura yang memang ditata serapi dan seindah mungkin, di Indonesia penataan kota cenderung sembraut, dan yang ketiga adalah keamanan dan kesejangan sosial ekonomi masyarakat.
Sekarang kita melihat kota yang sangat dekat dengan kita dan menjadi tempat kebanggan kita warga Sulawesi Selatan, Kota Makassar. Lihat saja bagaimana ruang publik yang dirubah fungsinya. Dengan intrik revitalisasi, ruang publik di kita Anging Mammiri ini disulap menjadi pusat perkotaan. Tentu saja masyarakat luas kehilangan lagi tempat yang selama ini menjadi ruang publik untuk melakukan berbagai aktifitas, bukan hanya itu nilai sejarah dan budaya juga hilang seperti kasus Karebosi, hal ini jelas menjadi masalah bagi masyarakat. Tidak hanya itu pembangunan yang tidak tertata rapi juga menjadi masalah dalam hal ruang public. Dimana-mana hanya mementingkan pembangunan tampa ada penunjang seperti ruang public yang memeadai bagi masyarakat. Selain itu peghijauan yang tidak digalakkan dengan baik menyebabkan kota mejadi sangat panas dan rawan akan banjir.
Meskipun kota-kota di Indonesia diselimuti oleh masalah ruang publik kota, akan tetapi kita masih bisa berbagga dengan adanya ruang public yang nyaman seperti di Malioboro di Jogjakarta. Megingat sifat komunal masyarakat Indonesia yang tidak membetuhkan kota dan ruang publik kota yang modern dan hanya mengingikankan cirri-ciri kota yang bersifat tradisional. Hal ini lah yang bisa dilihat pada kota Jogjakarta yang masih mengandalkan campuran antara ciri tradisional dengan gaya bengunan tertentu pada koridor pedagang kaki lima di Malioboro.

Budi Utomo

BUDI UTOMO
A. Pendahuluan
Bagi Bangsa Indonesia haram hukumnya jika tidak mengenal kata Budi Utomo. Bukan karena Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang membawa panji Nasional, akan tetapi Budi Utomo merupakan suatu roh yang membawa Negara ini lepas dari belenggu koloialisasi dalam hal ini penjajahan. Organisasi pergerakan nasional yang dipelopori oleh seorang terpelajar, dr. Wahidin Sudiro Husodo ini sebenarnya masih banyak yang melihat kabur ataupun belum menyesal mengenai masalah ini. Masih banyak yang mempertanyakan masalah organisasi pergerakan Nasional yang pertama yang tumbuh di Negara ini. Olehnya dalam makalah ini akan coba dibahas mengenai masalah organisasi ini baik itu sejarah terbentuknya hingga sepak terjangnya dalam usaha memperjuangkan tercapainya cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
B. Pembahasan
1. Sejarah Terbentuknya Budi Utomo (BU)
Pada awal abad XIX situasi sosial ekonomi di Jawa semakin buruk terutama setelah dilaksanakannya eksploitasi colonial tradisional, liberal, dan etis. Dengan dijalankannya politik etis yang member perhatian lebih pada. Organisasi Budi Utomo muncul karena situasi social ekonomi di Jawa pada abad 19 yang semakin buruk karena eksploitasi kolonial trasdisional, liberal dan etis. Semakin berkembangnya westrenisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai akibat dari berkembangnya politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad 20 bagi anak-anak Indonesia masih mengalami kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusudo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide ini diterima baik dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswaSchool Tot Opleiding Vor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan di sini merupakan awal perkembangan menuju keharmonisan bagi tanah dan orang Jawa dan Madura. Akhirnya Sutomo mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 mei 1908.
Selanjutnya untuk merealisasikan cita-cita dari Budi Utomo ini maka perlu diadakannya pengajaran terhadap orang-orang Jawa yang dikombinasikan dengan budaya barat. Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dengan diadakannya kongres BU yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam waktu singkat terjadi perubahan orientasi yang sebelumnya hanya didominasi oleh kalangan priyayi kemudian berubah mejadi gerakan yang dimasuki oleh golongan muda yang orientasinya menggunakan cara politik untuk melawan kolonial.
2. Budi Utomo Sebagai Pelopor Pergerakan Nasional
Dalam perkembagan selanjutnya, meskipun diwarai dengan gerakan pemuda yang sedikit radikal, akan tetapi BU tetap pada cita-cita kemerdekaan. Hal itu dibuktikan dengan turut memikirkan bagaimana mempertahakan egara khususnya pada meletusnya perang dunia pertama tahun 1914. Dalam hal itu BU membentuk dan mengadakan milisi yang diberi wadah komite pertahanan Hindia dan ikut turut dalam wadah wakil rakyat yang dibentuk pada 1918. Pada dekade ketiga khususnya abad XX kondisi-kondisi sosio-politik BU mulai mecari orientasi politik dan mencari massa lebih banyak dan lsemakin luas.
Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.


C. Kesimpulan
Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang membawa panji Nasional dan Juga merupakan suatu roh yang membawa Negara ini lepas dari belenggu koloialisasi dalam hal ini penjajahan. Organisasi pergerakan nasional yang dipelopori oleh seorang terpelajar, dr. Wahidin Sudiro Husodo ini selanjjutnya menjadi pelopor pergerakan Nasional Bangsa ini.
Pada awal abad XIX situasi sosial ekonomi di Jawa semakin buruk terutama setelah dilaksanakannya eksploitasi colonial tradisional, liberal, dan etis. Dengan dijalankannya politik etis yang member perhatian lebih pada. Organisasi Budi Utomo muncul karena situasi social ekonomi di Jawa pada abad 19 yang semakin buruk karena eksploitasi kolonial trasdisional, liberal dan etis. Semakin berkembangnya westrenisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai akibat dari berkembangnya politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad 20 bagi anak-anak Indonesia masih mengalami kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusudo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide ini diterima baik dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswaSchool Tot Opleiding Vor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan di sini merupakan awal perkembangan menuju keharmonisan bagi tanah dan orang Jawa dan Madura. Akhirnya Sutomo mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 mei 1908.
Dalam perkembagan selanjutnya, meskipun diwarai dengan gerakan pemuda yang sedikit radikal, akan tetapi BU tetap pada cita-cita kemerdekaan. Hal itu dibuktikan dengan turut memikirkan bagaimana mempertahakan egara khususnya pada meletusnya perang dunia pertama tahun 1914. Dalam hal itu BU membentuk dan mengadakan milisi yang diberi wadah komite pertahanan Hindia dan ikut turut dalam wadah wakil rakyat yang dibentuk pada 1918. Pada dekade ketiga khususnya abad XX kondisi-kondisi sosio-politik BU mulai mecari orientasi politik dan mencari massa lebih banyak dan lsemakin luas.

Budi Utomo

BUDI UTOMO
A. Pendahuluan
Bagi Bangsa Indonesia haram hukumnya jika tidak mengenal kata Budi Utomo. Bukan karena Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang membawa panji Nasional, akan tetapi Budi Utomo merupakan suatu roh yang membawa Negara ini lepas dari belenggu koloialisasi dalam hal ini penjajahan. Organisasi pergerakan nasional yang dipelopori oleh seorang terpelajar, dr. Wahidin Sudiro Husodo ini sebenarnya masih banyak yang melihat kabur ataupun belum menyesal mengenai masalah ini. Masih banyak yang mempertanyakan masalah organisasi pergerakan Nasional yang pertama yang tumbuh di Negara ini. Olehnya dalam makalah ini akan coba dibahas mengenai masalah organisasi ini baik itu sejarah terbentuknya hingga sepak terjangnya dalam usaha memperjuangkan tercapainya cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
B. Pembahasan
1. Sejarah Terbentuknya Budi Utomo (BU)
Pada awal abad XIX situasi sosial ekonomi di Jawa semakin buruk terutama setelah dilaksanakannya eksploitasi colonial tradisional, liberal, dan etis. Dengan dijalankannya politik etis yang member perhatian lebih pada. Organisasi Budi Utomo muncul karena situasi social ekonomi di Jawa pada abad 19 yang semakin buruk karena eksploitasi kolonial trasdisional, liberal dan etis. Semakin berkembangnya westrenisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai akibat dari berkembangnya politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad 20 bagi anak-anak Indonesia masih mengalami kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusudo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide ini diterima baik dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswaSchool Tot Opleiding Vor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan di sini merupakan awal perkembangan menuju keharmonisan bagi tanah dan orang Jawa dan Madura. Akhirnya Sutomo mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 mei 1908.
Selanjutnya untuk merealisasikan cita-cita dari Budi Utomo ini maka perlu diadakannya pengajaran terhadap orang-orang Jawa yang dikombinasikan dengan budaya barat. Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dengan diadakannya kongres BU yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam waktu singkat terjadi perubahan orientasi yang sebelumnya hanya didominasi oleh kalangan priyayi kemudian berubah mejadi gerakan yang dimasuki oleh golongan muda yang orientasinya menggunakan cara politik untuk melawan kolonial.
2. Budi Utomo Sebagai Pelopor Pergerakan Nasional
Dalam perkembagan selanjutnya, meskipun diwarai dengan gerakan pemuda yang sedikit radikal, akan tetapi BU tetap pada cita-cita kemerdekaan. Hal itu dibuktikan dengan turut memikirkan bagaimana mempertahakan egara khususnya pada meletusnya perang dunia pertama tahun 1914. Dalam hal itu BU membentuk dan mengadakan milisi yang diberi wadah komite pertahanan Hindia dan ikut turut dalam wadah wakil rakyat yang dibentuk pada 1918. Pada dekade ketiga khususnya abad XX kondisi-kondisi sosio-politik BU mulai mecari orientasi politik dan mencari massa lebih banyak dan lsemakin luas.
Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.


C. Kesimpulan
Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang membawa panji Nasional dan Juga merupakan suatu roh yang membawa Negara ini lepas dari belenggu koloialisasi dalam hal ini penjajahan. Organisasi pergerakan nasional yang dipelopori oleh seorang terpelajar, dr. Wahidin Sudiro Husodo ini selanjjutnya menjadi pelopor pergerakan Nasional Bangsa ini.
Pada awal abad XIX situasi sosial ekonomi di Jawa semakin buruk terutama setelah dilaksanakannya eksploitasi colonial tradisional, liberal, dan etis. Dengan dijalankannya politik etis yang member perhatian lebih pada. Organisasi Budi Utomo muncul karena situasi social ekonomi di Jawa pada abad 19 yang semakin buruk karena eksploitasi kolonial trasdisional, liberal dan etis. Semakin berkembangnya westrenisasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai akibat dari berkembangnya politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad 20 bagi anak-anak Indonesia masih mengalami kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusudo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide ini diterima baik dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswaSchool Tot Opleiding Vor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan di sini merupakan awal perkembangan menuju keharmonisan bagi tanah dan orang Jawa dan Madura. Akhirnya Sutomo mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 mei 1908.
Dalam perkembagan selanjutnya, meskipun diwarai dengan gerakan pemuda yang sedikit radikal, akan tetapi BU tetap pada cita-cita kemerdekaan. Hal itu dibuktikan dengan turut memikirkan bagaimana mempertahakan egara khususnya pada meletusnya perang dunia pertama tahun 1914. Dalam hal itu BU membentuk dan mengadakan milisi yang diberi wadah komite pertahanan Hindia dan ikut turut dalam wadah wakil rakyat yang dibentuk pada 1918. Pada dekade ketiga khususnya abad XX kondisi-kondisi sosio-politik BU mulai mecari orientasi politik dan mencari massa lebih banyak dan lsemakin luas.

Jumat, 11 Februari 2011

Porstitusi Di Asia Tenggara

A.Pendahuluan
Kajian Sejarah Sosial adalah suatu kajian yang sangat menarik. Didalam melihat fenomena-fenomena social yang terjadi didalam kehidupan masyarakat khususnya didaerah perkotaan sering kita jumpai fenomena yang sebelumnya sangat lumrah sekarang sudah menjadi budaya.
Porstitusi misalnya. Masalah ini adalah masalah yang hampir terjadi dinegara-negara di belahan bumi saat ini. Di eropa dan Negara-negara maju, hal tersebut adalah suatu hal yang biasa dan sangat mudah kita jumpai. Mungkin dinegara-negara yang bukan Islam hal ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah, tetapi bagaiman dengan Negara-negara yang menganut Islam.
Di Asia Tenggara masalah porstitusi ini merupakan masalah atau hal yang juga sangat mudah kita Jumpai. Seperti kekhawatiran sebelumnya mengenai bagaimana jika masalah tersebut terjadi dinegara-negara yang masyarakatnya mayoritas menganut Agama Islam dii Asia Tenggara, Brunei, Malaysia, dan Indonesia misalnya. Hal tersebut adalah salah satu masalah selain bagaimana hal itu bisa terjadi, di daerah mana saja yang akan coba dikaji dalam makalah ini.

B.Pembahasan
1.Gank Dolly Sebagai Tempat Porstitusi Terbesar Di asia Tenggara
Gank Dolly merupakan suatu kawasan yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Gank Dolly ini sangat terkenal bukan haya di Indonesia akan tetapi sampai kemanca Negara disebabkan karena Gank Dolly Surabaya dianggap sebagai kawasan porstitusi terbesar di Asia Tenggara. Menurut sejarah, Dolly berdiri sejak jaman penjajahan BELANDA. Dolly didirikan oleh Tante Dolly yang asli keturunan nonik Belanda, turunan tante dolly masih ada hingga saat ini. Sebagai pencetus dan pendiri dolly, tante dolly terbilang sukses. buktinya , dolly adalah salah satu prostitusi terbesar di asia tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Di sana, tak hanya terdengar derungan suara mesin kendaraan yang lewat, tetapi juga ada desahan napas para kupu-kupu malam yang terdengar sayup-sayup di balik kamar sempit. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang becak dan lain-lain. Di sana juga terdengar sayup-sayup seorang anak sedang melantunkan ayat-ayat suci. Pernah terlintas Dolly dimasukkan icon wisata bagi kota Surabaya, akan tetapi terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Dalam tempat lakalisasi Gank Dolly ini inilah para wanita-wanita dari berbagai wilayah di Indonesia dan wanita-wanita dari Negara-negara lain seperti Cina, arab, Iran, dan Negara-negara lain mengadu nasib, dalam hal ini menjadi pemuas nafsu bagi laki-laki hidung belang. Pemerintah yang seharusnya menjadi penanggung jawab untuk masalah ini juga tidak bisa berbuat banyak disebabkan besarnya penghasilan devisa dari tempat ini.
2.Porstitusi Di Thailand
Meningkatnya migrasi perempuan ke kota, khususnya pada industri seks dapat dikaitkan dengan ekspektasi kultur dan struktur ekonomi yang berkembang di negeri gajah ini. Di kultur masyarakat Thai, nilai tertinggi menjadi perempuan terletak pada jenis pekerjaan dan seberapa besar uang yang disumbangkan untuk keluarga dan saudara-saudaranya. Banyak studi melaporkan bahwa anak perempuanlah yang nyata-nyata banyak memberikan bantuan pada orang tua mereka.  Sementara anak laki-laki cukup dengan kesediaannya menjalani hidup sebagai monk (biksu) minimal satu kali dalam kehidupannya sudah bisa membanggakan orang tua.
Nilai-nilai patriarki sangat kental mengkonstruksi makna “menjadi perempuan Thai”, dimana lingkup kehidupan mereka hanya rumah dan desanya, wajib menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah, dan sesudahnya dituntut untuk monogami. Sebaliknya menjadi laki-laki di masyarakat Thai adalah anugerah. Mereka senantiasa mendapatkan kesempatan dan malah didorong untuk bersosialisasi dengan kehidupan sosial di luar keluarga dan dimaklumkan dengan permisivitas seks. Ketika kewajiban-kewajiban sebagai perempuan Thai diterjemahkan dalam bahasa praktis yaitu membantu keluarga atau mensupport pendidikan saudara-saudaranya, bersamaan itu permintaan pekerja perempuan di kota semakin meningkat, dibarengi lunturnya nilai-nilai tradisional sebagai perempuan karena ketergantungan keluarga secara materi pada anak perempuan semakin meningkat, membuat pilihan migrasi tanpa proteksi dari anggota keluarganya dan dukungan orang tua menjadi tak terelakkan. Apalagi didukung terbatasnya lapangan pekerjaan bagi perempuan di desa-desa, serta rendahnya pendidikan yang mustahil mendatangkan pendapatan tinggi. Kondisi inilah yang membuat para perempuan mempersepsikan bahwa menjadi pekerja seks adalah pilihan satu-satunya yang bisa menghasilkan big money.  
Jatuhnya pilihan perempuan pada industri seks secara historis ada kaitannya dengan tradisi dan situasi ekonomi politik internasional di Thailand. Dulu pada zaman pre komunis Cina, keberadaan rumah border diterima masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sosial. Bahkan sampai sekarang para istri lebih merelakan suaminya “jajan” di luar ketimbang mempunyai istri simpanan. Karena hubungan dengan pekerja seks ádalah murni hubungan jual beli. Berbeda dengan mempunyai istri simpanan, yang akan melibatkan emosi, cinta dan hak waris. Pada tahun 1932 sampai berakhirnya perang dunia kedua 1945, Jepang berhasil menaklukkan Cina. Selama periode itulah perempuan-perempuan dipaksa untuk melayani seks tentara Jepang dan kebanyakan comfort women didatangkan dari Asia, salah satunya Thailand. Tahun 1967, Thailand sepakat menyediakan diri sebagai R&R (Rest and Recreation) spot bagi tentara Amerika selama perang Vietnam. Pada saat itulah booming prostitusi. Sekitar 400,000 perempuan terlibat bisnis seks yang kemudian ditelantarkan setelah perang usai dan akhirnya diambil alih oleh sektor wisata.
 
Dari sinilah kemudian prostitusi di Thailand menjadi bisnis berskala internasional dibawah naungan sektor wisata. Bagaimana mungkin pemerintah Thai menjadikan negaranya sebagai “rumah border” bagi Amerika? Jawabnya singkat saja “tentara Amerika butuh perempuan; dan Thailand butuh dolar,” tutur salah satu pejabat pemerintahan Vietnam Selatan.  Kenapa bisnis seks masih tetap jalan sampai saat ini? Jawabnya, seperti layaknya industri multinasional yang lain, lahan ini mendatangkan keuntungan yang besar dengan membayar murah tubuh perempuan desa, lugu yang hanya berbekal pengalaman dadakan dan menempatkannya sebagai pekerjaan individu yang tidak perlu jaminan keselamatan formal.
3.Porstitusi Di Singapura
Jika Di Indonesia dikenal Gank Dolly dan Thailand dikenal dengan Phat Phong sebagai tempat porstitusi, maka di Singapura dikenal suatu kawasan dengan nama Gaylang. Pelacuran di Singapura ternyata lebih terbuka. Mereka tidak dilokalisasikan, tapi menjajakan dirinya di pinggiran jalan, dan bahkan di tengah kota. Tak jauh dari tempat segerombolan cewek  tadi, juga ada beberapa cewek seksi berdiri di pinggir jalan. Mereka mengenakan pakaian tank top. Baju bagian depan terbuka dan sedikit nampak menyembul payudaranya. Di Singapura, pelacur seperti di atas jumlahnya ribuan orang. Kupu-kupu malam di sana berasal dari Usbekistan, Filipina, Thailand, Indonesia, Vietnam, dan lokal.
C.Kesimpulan
Dari beberapa fakta yang dibahas diatas, meski sangat jauh dari kesempurnaan dan hanya membahasa sebahagian kecil dari masalah porstitusi di Asia Tenggara, akan tetapi setidaknya kita dapat melihat bagaimana praktek porstitusi ataupun modus, serta-serta tempat-tempat yang dikenal sebagai kawasan porstitusi cukup besar di Asia Tenggara. Dalam pembahasan dijelaskan kawasan Gank Dolly di Indonesia, Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.